Hidayat Sukrawinata dan Dedeh pada saat Lebaran Tahun 2009

Keluarga Trina Maphilinda dan Sudibyo bersama kedua anaknya Annisa Fitri Hanifah dan Nisrina Nur Fitriani

Keluarga Wiwin Winarti dan Mohamad Ikhwan bersama ketiga anaknya Mohamad Auliya Ikhwan, Sarah Nurulmillah dan Hana Nurul Kamillah Ikhwan

Minggu, 19 Juli 2015

Aksi Selfi Cucu-cucu Hidayat Sukrawinata

[Minggu, 19 Juli 2015] Masih dalam suasana lebaran tahun 2015 Keluarga Besar Sukrawinta mengadakan silahturahim keluarga yang diadakan di Ujung Berung, Kabupaten Bandung. Ada kenangan tersediri bagi cucu-cucu Hidayat Sukrawinata pada saat mereka bertemu dan berkumpul. Keakraban mereka tampak pada saat mereka berselfi ria dalam berfoto. Nah ini foto-foto aksi selfi cucu-cucu Hidayat Sukrawinata yang berhasil dikumpulkan.


Silahturahim Keluarga Besar Sukrawinata 2015

[Minggu, 19 Juli 2015] Dalam suasana Lebaran di tahun 2015 ini, Keluarga Besar Sukrawinata bersilahturahim di Ujung Berung, Kabupaten Bandung. Yuk kita lihat foto-foto dokumentasinya.



Jumat, 17 Juli 2015

Sholat Iedul Fitri 1436H di Rancaekek

[Jumat, 17 Juli 2015] Pada lebaran tahun 2015 yang bertepatan dengan Iedul Fitri 1436H ini, bersama Amih keluarga Irwan dan Trina sholat iedul fitri di lapangan mesjid di belakang rumah di Rancaekek. Suasana sholat iedul fitri 1436H ini tampak pada gammbar di bawah ini.


Senin, 29 Juli 2013

Silahturahim ke rumah Teh Een di Sukabumi

[Senin, 29 Juli 2013] Silahturahim ke rumah Teh Een di Sukabumi



Selasa, 01 Januari 2013

Istilah Keluarga dalam Budaya Sunda

Sekarang ini, banyak generasi muda yang tidak mengetahui sejarah keluarganya. Tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai suatu hal yang penting. Tidak percaya? Coba tanya saja orang di sebelah anda sekarang mengenai sejarah keluarganya, seperti siapa bao anda, siapa kakek anda, apa kegiatan sehari-harinya dulu, dan lain sebagainya. Saya jamin, tidak semua ia tahu.
Jangankan sejauh itu, istilah mengenai silsilah keluarga pun mungkin ia tidak tahu. Bukan hanya dia, bahkan mungkin anda. Termasuk saya juga tentunya, hehehe.

Sekarang saya hanya akan menguraikan istilah silsilah keluarga dalam budaya Sunda sampai dengan level leluhur saja. Diantaranya adalah sebagai berikut :
8. Karuhun (Leluhur)
7. Kakait Siwur (Mbah Gantung Siwur)
6. Udeg-Udeg (Mbah Udeg-Udeg)
5. Jangawareng (Mbah Wareng)
4. Bao (Mbah Canggah)
3. Uyut (Mbah Buyut)
2. Nini (Nenek) atau Aki (Kakek)
1. Bapa (Ayah) atau Indung (Ibu)

Istilah Keluarga dalam Budaya Sunda

Dalam bahasa sunda banyak sekali istilah yang di pergunakan untuk menamai sesuatu, baik itu berupa benda mati atau pun benda yang bernyawa sekalipun seperti nama istilah anak hewan, bunga, buah-buahan, nama tempat, dan lain-lain. 

Dibawah ini dibahas tentang istilah Keturunan dalam budaya sunda atau yang sering di sebut dengan silsilah keluarga dari mulai ayah, ibu, nenek, kakek, dan seterusnya, dengan mengetahui silsilah atau keturunan keluarga supaya tali persaudaraan atau tali silaturahmi makin erat dan supaya kita tahu garis keturunan kita. walaupun pada dasarnya kita semua itu semuanya saudara baik saudara dari Nabi Adam AS, saudara sebangsa, saudara senegara, maupun saudara seagama.
  • Salaki (suami) = Sebutan untuk laki-laki yang memimpin sebuah keluarga.
  • Pamajikan (istri) = Sebutan untuk perempuan yang menjadi pasangan "Salaki".
  • Anak (anak) = Sebutan untuk keturunan pertama dari sebuah keluarga.
  • Incu (cucu) turunan ke-3 = Sebutan untuk keturunan kedua dari sebuah keluarga.
  • Buyut (cicit) = Sebutan untuk keturunan ketiga dari sebuah keluarga.
  • Bao = Sebutan untuk keturunan keempat dari sebuah keluarga.
  • Bapa (bapak/ayah) = Sebutan untuk laki-laki yang menyebabkan terlahirnya sebuah keturunan.
  • Indung (ibu) = Sebutan untuk perempuan yang menyebabkan terlahirnya sebuah keturunan.
  • Aki (kakek) = Sebutan untuk laki-laki yang merupakan orangtua dari Ayah atau Ibu.
  • Nini (nenek) = Sebutan untuk perempuan yang merupakan orangtua dari Ayah atau Ibu.
  • Uyut = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi orangtua dari Aki atau Nini.
  • Bao = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi orangtua dari Uyut.
  • Jangawareng = Orangtua dari Bao.
  • Udeg-udeg = Orangtua dari Jangawareng.
  • Kakait Siwur = Orangtua dari Udeg-udeg.
  • Karuhun (sesepuh) = Sebutan untuk yang teratas (bisa jadi orangtua dari Udeg-udeg kita) dalam silsilah keluarga dan sudah meninggal dunia.
  • Adi (adek) = Sebutan untuk saudara kandung yang umurnya lebih muda.
  • Lanceuk (kakak) = Sebutan untuk saudara kandung yang umurnya lebih tua.
  • Amang / Emang (paman/om) = Sebutan untuk laki-laki yang menjadi adik dari orangtua.
  • Bibi (bibi/tante) = Sebutan untuk perempuan yang menjadi adik dari orangtua.
  • Uwa = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi kakak dari orangtua.
  • Alo (keponakan) = Sebutan untuk anak dari kakak kandung.
  • Suan = Sebutan untuk anak dari adik kandung.
  • Aki Tigigir = Sebutan untuk laki-laki yang merupakan adik atau kakak dari kakek atau nenek.
  • Nini Tigigir = Sebutan untuk perempuan yang merupakan adik atau kakak dari kakek atau nenek.
  • Kapi Lanceuk (kakak sepupu) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang merupakan anak dari kakak-nya orangtua (anak dari UWA).
  • Kapi Adi (adik sepupu) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang merupakan anak dari adik-nya orangtua (anak dari AMANG/paman).
  • Adi Beuteung (adik ipar) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi adik dari pasangan.
  • Lanceuk Beuteung (kakak ipar) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi kakak dari pasangan.
  • Mitoha (mertua) = Sebutan untuk orangtua dari pasangan.
  • Minantu (menantu) = Sebutan untuk pasangan dari anak kandung.
  • Tunggal (anak tunggal) = Sebutan untuk anak satu-satunya dari sebuah keluarga.
  • Cikal (sulung) = Anak Pertama dari sebuah keluarga.
  • Panengah = Anak yang kelahirannya berada paling tengah diantara keseluruhan anak (berlaku untuk yang mempunyai anak dalam jumlah ganjil).
  • Pangais Bungsu = Anak yang lahir sebelum anak terakhir (urutan kedua dari bawah, dan berlaku untuk keluarga yang mempunyai anak lebih dari dua).
  • Bungsu (bungsu / bontot) = Anak yang lahir paling akhir dari sebuah keluarga.
  • Adi Sabrayna = sebutan untuk adik sepupu yang masih berada di jalur keturunan kakek dan nenek.
  • Lanceuk Sabrayna = sebutan untuk kakak sepupu yang masih berada di jalur keturunan kakek dan nenek.
  • Dulur ( saudara ) = sebutan untuk sodara yang masih dekat garis keturunan nya.
  • Baraya (kerabat) = Sebutan untuk saudara yang masih satu turunan, tapi sudah terlalu jauh urutannya. 
  • Dulur Pet Ku Hinis (saudara kandung) = Sebutan untuk saudara yang masih satu ibu dan satu bapak (saudara kandung). 
Semoga bermanfaat. (Sumber : Dirangkum dari berbagai informasi)

Minggu, 01 Januari 2012

Urutan Silsilah Menurut Jawa

Dewasa ini orang Jawa sudah banyak yang tidak mengetahui urut - urutan dalam silsilah keluarga mereka. Banyak di antara mereka yang hanya mengetahui sebatas keturunan atau moyang yang ke empat yaitu canggah. Untuk keturunan atau moyang yang selanjutnya mereka belum tahu atau bahkan banyak yang tidak mengetahuinya.
Dalam Keluarga Jawa, biasanya anak menyebut orang tuanya dengan sebutan Bapak/Bapa dan Simbok/Biyung. Trah (Jawa) berarti urutan keturunan dalam Keluarga Besar.

Berikut adalah istilah untuk level leluhur (ke atas) dalam Bahasa Jawa :
  1. Moyang ke-18. Mbah Trah Tumerah
  2. Moyang ke-17. Mbah Menya-menya
  3. Moyang ke-16. Mbah Menyaman
  4. Moyang ke-15. Mbah Ampleng
  5. Moyang ke-14. Mbah Cumpleng
  6. Moyang ke-13. Mbah Giyeng
  7. Moyang ke-12. Mbah Cendheng
  8. Moyang ke-11. Mbah Gropak Waton
  9. Moyang ke-10. Mbah Galih Asem
  10. Moyang ke-9. Mbah Debog Bosok
  11. Moyang ke-8. Mbah Gropak Senthe
  12. Moyang ke-7. Mbah Gantung Siwur
  13. Moyang ke-6. Mbah Udheg-udheg
  14. Moyang ke-5. Mbah Wareng
  15. Moyang ke-4. Mbah Canggah
  16. Moyang ke-3. Mbah Buyut
  17. Moyang ke-2. Simbah, dalam bahasa Indonesia disebut Eyang
  18. Moyang ke-1. Bapak/Bapa / Simbok/Biyung.

Berikut adalah istilah untuk level keturunan (ke bawah) Bahasa Jawa:
  1. Keturunan ke-1. Anak
  2. Keturunan ke-2. Putu, dalam bahasa Indonesia disebut “cucu”
  3. Keturunan ke-3. Buyut, dalam bahasa Indonesia disebut “cicit”
  4. Keturunan ke-4. Canggah
  5. Keturunan ke-5. Wareng
  6. Keturunan ke-6. Udhek-udhek
  7. Keturunan ke-7. Gantung siwur
  8. Keturunan ke-8. Gropak Senthe
  9. Keturunan ke-9. Debog Bosok
  10. Keturunan ke-10. Galih Asem
  11. Keturunan ke-11. Gropak waton
  12. Keturunan ke-12. Cendheng
  13. Keturunan ke-13. Giyeng
  14. Keturunan ke-14. Cumpleng
  15. Keturunan ke-15. Ampleng
  16. Keturunan ke-16. Menyaman
  17. Keturunan ke-17. Menya-menya
  18. Keturunan ke-18. Trah tumerah.
Nah, untuk selanjutnya apa namanya?
Semua memang harus dibatasi. Untuk garis moyang dan keturunan Jawa ini memang hanya sampai ke 18 (yang saya ketahui), yang artinya 18 (delapan belas) generasi. Kalau satu generasi saja berumur rata - rata 60 (enam puluh tahun) maka dalam 18 generasi artinya 1080 tahun.itukah?!

Semoga bermanfaat..
(Sumber : Facebook.com)

Minggu, 05 Juni 2011

Car Free Day di Dago Bandung

[Minggu, 5 Juni 2011] Amih diajak jalan-jalan oleh cucunya dalam acara Car Free Day di jalan Dago Bandung. Lumayan ramai dengan berbagai pertunjukan. Amih menikmati ramainya suasana dipagi hari itu. 


Apa itu sebenarnya Car Free Day ?

Car Free Day (CFD) atau hari dimana jalanan bebas dari kendaraan bermotor. Setiap tahun pada tanggal 22 September diperingati sebagai hari CFD sedunia, awal mula gerakan ini dicetuskan oleh Carbuster pada tahun 1997. Semangat dari Car Free Day adalah, tinggalkan kendaraan bermotor dirumah dan berjalan kakilah atau gunakan kendaraan tidak bermotor ataupun menggunakan kendaraan umum untuk perjalanan panjang. Kalau diminta seharian penuh ngangkot atau bersepeda pasti banyak yang kabur, kecuali mereka yang sehari-harinya ngangkot dan nyapedah, makanya CFD hanya diterapkan di sebagian jalanan saja tidak mengambil seluruh kota dan dalam hari dan jangka waktu tertentu saja tidak seharian 24 jam. Untuk CFD Dago diadakan di hari minggu sepanjang jalan Ir. H. Juanda dari Dago bawah, persis dibawah jalan layang pasupati sampai Dago atas pertigaan Jl. Ir.H. Juanda dan Jl. Dayang Sumbi, aktivitas kendaraan bermotor haram lewat CFD Dago dimulai dari jam 06.00 sampai 10.00 WIB.



Paling enak berangkat ke CFD dago pagi-pagi jadi jam 6.00 sudah sampai disana, jalanan masih bersih dan lengang kita bisa bebas mau gogoleran juga ga ada yang ngehalangin, udaranya masih dingin, cocok lah buat jogging, sasapedahan, oorayan, ucing sumput, sorodot gaplok.

Di area CFD Dago ga boleh parkir mobil atau motor kecuali mobil atau motornya mainan. Jadi biasanya sih pada naik angkot atau sepedah ke CFD, ya ada juga yang naik mobil atau motor trus cari parkiran diluar area CFD. Mulai deket ke jam 7.00 jalanan tambah rame yang dagang juga udah selesai siap-siapnya.

Daya tarik CFD Dago membuat banyak warga yang menghabiskan minggu paginya di sini, kesempatan ini tidak dilewatkan begitu saja oleh para pemilik usaha sepanjang jalan Dago, buwanyak yang jualan, namun tetap lebih nyaman jalan pagi di CFD Dago ketimbang di area Gasibu.

Tapi kalau ga diatur sebentar lagi bakalan mirip Gasibu dimana area publiknya nyaris habis sama pedagang. Kekhawatirannya kalo padempet memudahkan copet untuk beraksi, tapi kalo di CFD banyak banget pa dan bu polisi yang jalan-jalan jadi kayanya lumayan ampuh buat menghalau copet.

Udara pagi sayang sekali kalau ga dipakai olahraga, banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan disini, bisa sekedar jalan kaki dari ujung ke ujung, atau bersepeda, oh iya buat yang pengen sesepedahan tapi ga punya atau ga bawa sepeda di area CFD Dago ada penyewaan sepeda Bike.BDG.

Kalau misalnya bingung mau olahraga tapi lagi ga sama temen dan ga tau mau olahraga apa, bisa join senam sama warga Bandung yang lain, biasanya banyakan nih yang partisipasi, dijamin rame dan sehat, gerakannya dipandu sama instruktur aerobik yang ada di panggung, buat yang belom pernah nyobain senam massal wajib join kegiatan ini. Berkeringat dan menyenangkan apalagi kalo ga hapal gerakannya. hehe.
Buat yang udah cape olahraga sambil istirahat  bisa menikmati banyak hiburan, beberapa stasiun radio atau perusahaan biasanya pasang panggung dan bikin acara khusus di Car Free Day.
Beberapa hotel bahkan sengaja mengeluarkan sebagian meja restoran mereka ke halaman parkiran depan lengkap dengan solo organ dan penyanyinya untuk menarik para pengunjung CFD.
Banyak yang unik di CFD salah satunya hiburan musik keroncong, warna lagu keroncong yang jarang sekali terdengar ditengah dominasi pop dan musik top 40 bisa kita nikmati di CFD. Gak kalah deh keroncong kita ama jazz.
Cape olahraga dan jalan-jalan waktunya makan-makan, jangan khawatir kelaparan, banyak sekali yang jualan makanan di sini, mulai dari yang sering kita lihat sampai yang unik.
Sedikit catatan pelengkap kenapa CFD itu diadakan:

Buat apa sih CFD diadain??? Pertanyaan ini mungkn banyak muncul pada benak sebagaian orang. Sebab akibat kondisi ini jalanan pasti macet dan kendaraan bermotor harus mencari jalan alternatif. Memang setiap kegiatan akan mempunya baik dan buruk tinggal kita memilih lebih besar yang baik atau lebih besar hal yang buruk. Jawabannya pasti lebih banyak kebaikan yang di hasilkan di kegatan CFD daripada komplain beberapa pengguna kendaraan bermotor yang mengeluhkan kemacetan baru.

CFD jadi salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi tingkat polusi udara dan mendorong masyarakat menggunakan moda transportasi ramah lingkungan seperti sepeda. Buat pengetahuan aja tingkat polusi di Jakarta memprihatinkan. Bayangkan, pada tahun 2005 Jakarta masuk peringkat 3 sebagai ibukota dunia paling polutan di dunia. Sungguh prestasi yang mengecewakan bagi bangsa Indonesia. Asap kendaraan bermotor menyumbang 26 persen dari total polusi yang dihasilkan di Indonesia.

Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), setiap kali kendaraan mengeluarkan asap, sekitar 1.000 unsur beracun yang terkandung di dalamnya turut mengotori udara. Unsur-unsur beracun yang terkandung asap kendaraan seperti karbon monoksida, karbon dioksida, partikulat, ozon, timbel, dan sulfur dioksida pada akhirnya dapat menimbulkan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Akibatnya pada tahun 2005 penderita rawat inap akibat ISPA mencapai 125 ribu orang. Lebih mengenaskan lagi, sekitar 6.000 orang meninggal akibat ISPA di tahun 2005. Oleh karena itulah dukung terus CFD di kota anda.
Sepanjang Jl. Ir. H. Juanda dari Jl. Dayang sumbi - Cikapayang bawah pasupati.
Hari Minggu 6.00 - 10.00

  • Cicaheum - Ciroyom
  • Kalapa - Dago
  • Caringin - Dago
  • Caringin - Sedang Serang