Senin, 29 Juli 2013
Selasa, 01 Januari 2013
Istilah Keluarga dalam Budaya Sunda
Sekarang ini, banyak generasi muda yang tidak mengetahui sejarah
keluarganya. Tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai suatu hal
yang penting. Tidak percaya? Coba tanya saja orang di sebelah anda
sekarang mengenai sejarah keluarganya, seperti siapa bao anda, siapa
kakek anda, apa kegiatan sehari-harinya dulu, dan lain sebagainya. Saya
jamin, tidak semua ia tahu.
Jangankan sejauh itu, istilah mengenai silsilah keluarga pun mungkin ia tidak tahu. Bukan hanya dia, bahkan mungkin anda. Termasuk saya juga tentunya, hehehe.
Jangankan sejauh itu, istilah mengenai silsilah keluarga pun mungkin ia tidak tahu. Bukan hanya dia, bahkan mungkin anda. Termasuk saya juga tentunya, hehehe.
Sekarang saya hanya akan menguraikan istilah silsilah keluarga dalam budaya Sunda sampai dengan level leluhur saja. Diantaranya adalah sebagai berikut :
8. Karuhun (Leluhur)
7. Kakait Siwur (Mbah Gantung Siwur)
6. Udeg-Udeg (Mbah Udeg-Udeg)
5. Jangawareng (Mbah Wareng)
4. Bao (Mbah Canggah)
3. Uyut (Mbah Buyut)
2. Nini (Nenek) atau Aki (Kakek)
1. Bapa (Ayah) atau Indung (Ibu)
8. Karuhun (Leluhur)
7. Kakait Siwur (Mbah Gantung Siwur)
6. Udeg-Udeg (Mbah Udeg-Udeg)
5. Jangawareng (Mbah Wareng)
4. Bao (Mbah Canggah)
3. Uyut (Mbah Buyut)
2. Nini (Nenek) atau Aki (Kakek)
1. Bapa (Ayah) atau Indung (Ibu)
Istilah Keluarga dalam Budaya Sunda
Dalam bahasa sunda banyak sekali istilah yang di pergunakan untuk
menamai sesuatu, baik itu berupa benda mati atau pun benda yang bernyawa
sekalipun seperti nama istilah anak hewan, bunga, buah-buahan, nama
tempat, dan lain-lain.
Dibawah ini dibahas tentang istilah Keturunan dalam budaya sunda atau
yang sering di sebut dengan silsilah keluarga dari mulai ayah, ibu,
nenek, kakek, dan seterusnya, dengan mengetahui silsilah atau keturunan
keluarga supaya tali persaudaraan atau tali silaturahmi makin erat dan
supaya kita tahu garis keturunan kita. walaupun pada dasarnya kita semua
itu semuanya saudara baik saudara dari Nabi Adam AS, saudara sebangsa,
saudara senegara, maupun saudara seagama.
- Salaki (suami) = Sebutan untuk laki-laki yang memimpin sebuah keluarga.
- Pamajikan (istri) = Sebutan untuk perempuan yang menjadi pasangan "Salaki".
- Anak (anak) = Sebutan untuk keturunan pertama dari sebuah keluarga.
- Incu (cucu) turunan ke-3 = Sebutan untuk keturunan kedua dari sebuah keluarga.
- Buyut (cicit) = Sebutan untuk keturunan ketiga dari sebuah keluarga.
- Bao = Sebutan untuk keturunan keempat dari sebuah keluarga.
- Bapa (bapak/ayah) = Sebutan untuk laki-laki yang menyebabkan terlahirnya sebuah keturunan.
- Indung (ibu) = Sebutan untuk perempuan yang menyebabkan terlahirnya sebuah keturunan.
- Aki (kakek) = Sebutan untuk laki-laki yang merupakan orangtua dari Ayah atau Ibu.
- Nini (nenek) = Sebutan untuk perempuan yang merupakan orangtua dari Ayah atau Ibu.
- Uyut = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi orangtua dari Aki atau Nini.
- Bao = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi orangtua dari Uyut.
- Jangawareng = Orangtua dari Bao.
- Udeg-udeg = Orangtua dari Jangawareng.
- Kakait Siwur = Orangtua dari Udeg-udeg.
- Karuhun (sesepuh) = Sebutan untuk yang teratas (bisa jadi orangtua dari Udeg-udeg kita) dalam silsilah keluarga dan sudah meninggal dunia.
- Adi (adek) = Sebutan untuk saudara kandung yang umurnya lebih muda.
- Lanceuk (kakak) = Sebutan untuk saudara kandung yang umurnya lebih tua.
- Amang / Emang (paman/om) = Sebutan untuk laki-laki yang menjadi adik dari orangtua.
- Bibi (bibi/tante) = Sebutan untuk perempuan yang menjadi adik dari orangtua.
- Uwa = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi kakak dari orangtua.
- Alo (keponakan) = Sebutan untuk anak dari kakak kandung.
- Suan = Sebutan untuk anak dari adik kandung.
- Aki Tigigir = Sebutan untuk laki-laki yang merupakan adik atau kakak dari kakek atau nenek.
- Nini Tigigir = Sebutan untuk perempuan yang merupakan adik atau kakak dari kakek atau nenek.
- Kapi Lanceuk (kakak sepupu) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang merupakan anak dari kakak-nya orangtua (anak dari UWA).
- Kapi Adi (adik sepupu) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang merupakan anak dari adik-nya orangtua (anak dari AMANG/paman).
- Adi Beuteung (adik ipar) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi adik dari pasangan.
- Lanceuk Beuteung (kakak ipar) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi kakak dari pasangan.
- Mitoha (mertua) = Sebutan untuk orangtua dari pasangan.
- Minantu (menantu) = Sebutan untuk pasangan dari anak kandung.
- Tunggal (anak tunggal) = Sebutan untuk anak satu-satunya dari sebuah keluarga.
- Cikal (sulung) = Anak Pertama dari sebuah keluarga.
- Panengah = Anak yang kelahirannya berada paling tengah diantara keseluruhan anak (berlaku untuk yang mempunyai anak dalam jumlah ganjil).
- Pangais Bungsu = Anak yang lahir sebelum anak terakhir (urutan kedua dari bawah, dan berlaku untuk keluarga yang mempunyai anak lebih dari dua).
- Bungsu (bungsu / bontot) = Anak yang lahir paling akhir dari sebuah keluarga.
- Adi Sabrayna = sebutan untuk adik sepupu yang masih berada di jalur keturunan kakek dan nenek.
- Lanceuk Sabrayna = sebutan untuk kakak sepupu yang masih berada di jalur keturunan kakek dan nenek.
- Dulur ( saudara ) = sebutan untuk sodara yang masih dekat garis keturunan nya.
- Baraya (kerabat) = Sebutan untuk saudara yang masih satu turunan, tapi sudah terlalu jauh urutannya.
- Dulur Pet Ku Hinis (saudara kandung) = Sebutan untuk saudara yang masih satu ibu dan satu bapak (saudara kandung).
Minggu, 01 Januari 2012
Urutan Silsilah Menurut Jawa
Dewasa ini orang Jawa sudah banyak yang tidak mengetahui urut -
urutan dalam silsilah keluarga mereka. Banyak di antara mereka yang
hanya mengetahui sebatas keturunan atau moyang yang ke empat yaitu canggah. Untuk keturunan atau moyang yang selanjutnya mereka belum tahu atau bahkan banyak yang tidak mengetahuinya.
Dalam
Keluarga Jawa, biasanya anak menyebut orang tuanya dengan sebutan
Bapak/Bapa dan Simbok/Biyung. Trah (Jawa) berarti urutan keturunan dalam
Keluarga Besar.
Berikut adalah istilah untuk level leluhur (ke atas) dalam Bahasa Jawa :
- Moyang ke-18. Mbah Trah Tumerah
- Moyang ke-17. Mbah Menya-menya
- Moyang ke-16. Mbah Menyaman
- Moyang ke-15. Mbah Ampleng
- Moyang ke-14. Mbah Cumpleng
- Moyang ke-13. Mbah Giyeng
- Moyang ke-12. Mbah Cendheng
- Moyang ke-11. Mbah Gropak Waton
- Moyang ke-10. Mbah Galih Asem
- Moyang ke-9. Mbah Debog Bosok
- Moyang ke-8. Mbah Gropak Senthe
- Moyang ke-7. Mbah Gantung Siwur
- Moyang ke-6. Mbah Udheg-udheg
- Moyang ke-5. Mbah Wareng
- Moyang ke-4. Mbah Canggah
- Moyang ke-3. Mbah Buyut
- Moyang ke-2. Simbah, dalam bahasa Indonesia disebut Eyang
- Moyang ke-1. Bapak/Bapa / Simbok/Biyung.
Berikut adalah istilah untuk level keturunan (ke bawah) Bahasa Jawa:
- Keturunan ke-1. Anak
- Keturunan ke-2. Putu, dalam bahasa Indonesia disebut “cucu”
- Keturunan ke-3. Buyut, dalam bahasa Indonesia disebut “cicit”
- Keturunan ke-4. Canggah
- Keturunan ke-5. Wareng
- Keturunan ke-6. Udhek-udhek
- Keturunan ke-7. Gantung siwur
- Keturunan ke-8. Gropak Senthe
- Keturunan ke-9. Debog Bosok
- Keturunan ke-10. Galih Asem
- Keturunan ke-11. Gropak waton
- Keturunan ke-12. Cendheng
- Keturunan ke-13. Giyeng
- Keturunan ke-14. Cumpleng
- Keturunan ke-15. Ampleng
- Keturunan ke-16. Menyaman
- Keturunan ke-17. Menya-menya
- Keturunan ke-18. Trah tumerah.
Nah, untuk selanjutnya apa namanya?
Semua
memang harus dibatasi. Untuk garis moyang dan keturunan Jawa ini memang
hanya sampai ke 18 (yang saya ketahui), yang artinya 18 (delapan belas)
generasi. Kalau satu generasi saja berumur rata - rata 60 (enam puluh
tahun) maka dalam 18 generasi artinya 1080 tahun.itukah?!
Semoga bermanfaat..
(Sumber : Facebook.com)
Minggu, 05 Juni 2011
Car Free Day di Dago Bandung
[Minggu, 5 Juni 2011] Amih diajak jalan-jalan oleh cucunya dalam acara Car Free Day di jalan Dago Bandung. Lumayan ramai dengan berbagai pertunjukan. Amih menikmati ramainya suasana dipagi hari itu.
Apa itu sebenarnya Car Free Day ?
Car Free Day (CFD) atau hari dimana jalanan bebas dari kendaraan
bermotor. Setiap tahun pada tanggal 22 September diperingati sebagai
hari CFD sedunia, awal mula gerakan ini dicetuskan oleh Carbuster pada
tahun 1997. Semangat dari Car Free Day adalah, tinggalkan kendaraan
bermotor dirumah dan berjalan kakilah atau gunakan kendaraan tidak
bermotor ataupun menggunakan kendaraan umum untuk perjalanan panjang. Kalau diminta seharian penuh ngangkot atau bersepeda pasti banyak yang kabur, kecuali mereka yang sehari-harinya ngangkot dan nyapedah,
makanya CFD hanya diterapkan di sebagian jalanan saja tidak mengambil
seluruh kota dan dalam hari dan jangka waktu tertentu saja tidak
seharian 24 jam. Untuk CFD Dago diadakan di hari minggu sepanjang jalan
Ir. H. Juanda dari Dago bawah, persis dibawah jalan layang pasupati
sampai Dago atas pertigaan Jl. Ir.H. Juanda dan Jl. Dayang Sumbi,
aktivitas kendaraan bermotor haram lewat CFD Dago dimulai dari jam 06.00
sampai 10.00 WIB.
Paling enak berangkat ke CFD dago pagi-pagi jadi jam 6.00 sudah sampai
disana, jalanan masih bersih dan lengang kita bisa bebas mau gogoleran
juga ga ada yang ngehalangin, udaranya masih dingin, cocok lah buat
jogging, sasapedahan, oorayan, ucing sumput, sorodot gaplok.
Di area CFD Dago ga boleh parkir mobil atau motor kecuali mobil atau
motornya mainan. Jadi biasanya sih pada naik angkot atau sepedah ke CFD,
ya ada juga yang naik mobil atau motor trus cari parkiran diluar area
CFD. Mulai deket ke jam 7.00 jalanan tambah rame yang dagang juga udah
selesai siap-siapnya.
Daya tarik CFD Dago membuat banyak warga yang menghabiskan minggu
paginya di sini, kesempatan ini tidak dilewatkan begitu saja oleh para
pemilik usaha sepanjang jalan Dago, buwanyak yang jualan, namun tetap
lebih nyaman jalan pagi di CFD Dago ketimbang di area Gasibu.
Tapi kalau ga diatur sebentar lagi bakalan mirip Gasibu dimana area publiknya nyaris habis sama pedagang. Kekhawatirannya kalo padempet
memudahkan copet untuk beraksi, tapi kalo di CFD banyak banget pa dan
bu polisi yang jalan-jalan jadi kayanya lumayan ampuh buat menghalau
copet.
Udara pagi sayang sekali kalau ga dipakai olahraga, banyak sekali
aktivitas yang bisa dilakukan disini, bisa sekedar jalan kaki dari ujung
ke ujung, atau bersepeda, oh iya buat yang pengen sesepedahan tapi ga
punya atau ga bawa sepeda di area CFD Dago ada penyewaan sepeda
Bike.BDG.
Kalau misalnya bingung mau olahraga tapi lagi ga sama temen dan ga tau
mau olahraga apa, bisa join senam sama warga Bandung yang lain, biasanya
banyakan nih yang partisipasi, dijamin rame dan sehat, gerakannya
dipandu sama instruktur aerobik yang ada di panggung, buat yang belom
pernah nyobain senam massal wajib join kegiatan ini. Berkeringat dan
menyenangkan apalagi kalo ga hapal gerakannya. hehe.
Buat yang udah cape olahraga sambil istirahat bisa menikmati banyak
hiburan, beberapa stasiun radio atau perusahaan biasanya pasang panggung
dan bikin acara khusus di Car Free Day.
Beberapa hotel bahkan sengaja mengeluarkan sebagian meja restoran mereka
ke halaman parkiran depan lengkap dengan solo organ dan penyanyinya
untuk menarik para pengunjung CFD.
Banyak yang unik di CFD salah satunya hiburan musik keroncong, warna
lagu keroncong yang jarang sekali terdengar ditengah dominasi pop dan
musik top 40 bisa kita nikmati di CFD. Gak kalah deh keroncong kita ama
jazz.
Cape olahraga dan jalan-jalan waktunya makan-makan, jangan khawatir
kelaparan, banyak sekali yang jualan makanan di sini, mulai dari yang
sering kita lihat sampai yang unik.
(Sumber: http://newsbike.wordpress.com)
Buat apa sih CFD diadain??? Pertanyaan ini mungkn banyak muncul pada
benak sebagaian orang. Sebab akibat kondisi ini jalanan pasti macet dan
kendaraan bermotor harus mencari jalan alternatif. Memang setiap
kegiatan akan mempunya baik dan buruk tinggal kita memilih lebih besar
yang baik atau lebih besar hal yang buruk. Jawabannya pasti lebih banyak
kebaikan yang di hasilkan di kegatan CFD daripada komplain beberapa
pengguna kendaraan bermotor yang mengeluhkan kemacetan baru.
CFD jadi salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi tingkat polusi
udara dan mendorong masyarakat menggunakan moda transportasi ramah
lingkungan seperti sepeda. Buat pengetahuan aja tingkat polusi di
Jakarta memprihatinkan. Bayangkan, pada tahun 2005 Jakarta masuk
peringkat 3 sebagai ibukota dunia paling polutan di dunia. Sungguh
prestasi yang mengecewakan bagi bangsa Indonesia. Asap kendaraan
bermotor menyumbang 26 persen dari total polusi yang dihasilkan di
Indonesia.
Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), setiap
kali kendaraan mengeluarkan asap, sekitar 1.000 unsur beracun yang
terkandung di dalamnya turut mengotori udara. Unsur-unsur beracun yang
terkandung asap kendaraan seperti karbon monoksida, karbon dioksida,
partikulat, ozon, timbel, dan sulfur dioksida pada akhirnya dapat
menimbulkan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Akibatnya pada tahun 2005 penderita rawat inap akibat ISPA mencapai 125
ribu orang. Lebih mengenaskan lagi, sekitar 6.000 orang meninggal akibat
ISPA di tahun 2005. Oleh karena itulah dukung terus CFD di kota anda.
Sepanjang Jl. Ir. H. Juanda dari Jl. Dayang sumbi - Cikapayang bawah pasupati.
Hari Minggu 6.00 - 10.00
Hari Minggu 6.00 - 10.00
- Cicaheum - Ciroyom
- Kalapa - Dago
- Caringin - Dago
- Caringin - Sedang Serang
Minggu, 14 Oktober 2007
Silahturahim Keluarga Soekrawinata tahun 2007
23.18
Annisa Fitri Hanifah
,
Hidayat Sukrawinata
,
Info dan Kabar Keluarga
,
Nisrina Nur Fitriani
No comments
[Minggu, 14 Oktober 2007] Keluarga Besar Soekrawinata kembali mengadakan silahturahim pada hari Minggu di Ujung Berung Kabupaten Bandung. Suasana ramai dan ceria sambil berprogram untuk merenovasi masjid yang berada dekat makam keluarga di sana. Inilah beberapa gambar yang berhasil dikumpulkan.
Kamis, 27 Juli 2000
Trina Maphilinda
Trina Maphilinda adalah anak kedua dari pernikahan Hidayat Sukrawinata dengan Rd Dedeh. Lahir di Bandung pada tanggal 29 Juli 1963.
Masa remajanya lebih banyak tinggal di kota Bandung. Masuk di SMP dan SMA Bandung, serta melanjutkan kuliah di Universitas Pajajaran dengan menyelesaikan pada fakultas hukum.
Selepas kuliah, bekerja di Bina Asih sebuah konsultan Perancis di Jakarta. Tidak terbayangkan akan akhirnya lebih banyak tinggal di Jakarta. Apalagi setelah menikah dengan Sudibyo yang memang tinggal di Jakarta.
Dari pernikahannya dengan Sudibyo pada tahun 1996, pada saat ini telah dikarunia anak yaitu Annisa Fitri Hanifah dan Nisrina Nur Fitriani.
![]() |
| Keluarga Trina Maphilinda dan Sudibyo bersama kedua anaknya Annisa Fitri Hanifah dan Nisrina Nur Fitriani (2005) |
Minggu, 09 Juli 2000
Enen
E Nihayah Wiryadi yang lahir pada tahun 1934 adalah anak ketujuh dari Oding Wiryadi yang mempunyai keturunan sebagai berikut :
Langganan:
Postingan
(
Atom
)












